goler goler

Akhirnya minggu… biarpun berasanya bukan weekend tapi weakend… hoooh.. rasanya pengen gogoleran aja sepanjang hari, just do nothing *kebluk mode on* . This week has been a long week for me, malem2nya rada2 insomnia, siang2nya capek kerja (yang mana kemaren ditutup dengan ngajar 4 pertemuan skaligus..biar skalian), cuaca hati juga lagi rada2 (sorii buat oknum2 yg sempet kena getahnya)but that’s a life..just deal with it.

Kamar kasur n laptop nampak sangat menggoda buat ditemenin seharian.. kayanya enak nih santai2 sambil blog walking-an (dengan catetan masih ada 2 PR buat besok..hiks), tapi apa daya ada utang jalan sama si bungsu..ada sodara yg mw namu..ada tempat yg harus dikunjungin ma bapake.. ya sudahlah..mari gogoleran bentar baru mulai beraktivitas lagi … 😛

run run run

Ada hal-hal yang terkadang enggan kita pikirkan.. ada hal-hal yang saat membayangkannya saja membuat kita rasanya terjun dari puncak roller coaster ke dasar dengan kecepatan yang luar biasa..

rollercoaster

kalo kata pasien2 saya yang biasa make nitrogliserin trus lupa ngonsumsi obat.. sensasinya tuh jantung rasanya ngalenyap.. *bayangin sendiri*

Hal-hal itu bisa saja sudah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi.. untuk perasaan pada hal-hal yang sudah terjadi bisa kita sebut trauma, untuk yang akan terjadi..mari kita sebut .. ketakutan.. (untuk yang sedang terjadi belum nemu istilah yang enak..haha). Trauma.. maupun ketakutan.. entah kenapa selalu memunculkan satu reaksi: LARI.

Lari dalam arti menghindar, lari dalam arti nggak mau memikirkan, lari dalam arti enggan melihat berbagai kemungkinan, dan lari dalam arti merasa tak ada solusi. Kenapa harus lari? Toh lari sejauh apapun kita pasti akan bertemu dengan trauma atau ketakutan itu, karena rasa takut itu ada di hati kita sendiri..

Jadi.. kalau saya sih.. sekarang sedang berusaha berhenti dari upaya lari.. tadinya dah mau lari nih.. tapi entah kenapa ada yang nahan..haha.. mari berhenti sejenak untuk menenangkan diri, melihat lebih jelas bayangan ketakutan yang selalu menghantui itu.. mendekatinya..mencari informasi mengenainya, mengukur kemampuan dan keikhlasan diri, mencari solusi, dan yang tak kalah penting, mengingat dan memperbarui lagi tujuan awal.. (we want to live together happily ever after.. right 🙂  ?)

BULAN

Tak harus yang paling terang

Tak harus yang paling kuat

lets-play-with-moon-and-sun04

Untuk mematri semua pandangan

Cukup sinar lembut menyapa hangat

Pantulan sederhananya membuat terpana

Tak mesti selalu tampak

Untuk menunjukkannya ada

Tak mesti selalu terlihat sama

Untuk membuktikannya setia

Sabit dan penuhnya hanyalah semacam senyum dan tawa

Dan purnama malam ini

Cukuplah menjadi bukti

Janjinya untuk selalu berada di sisi

Bersama-sama berlari menggoda matahari

Dan bila esok atau lusa

Ia tak muncul atau berganti rupa

Yakini ia masih sama

Sabit dan purnamanya hanya masa

Pertunjukan kesabarannya

LET ME INTRODUCE YOU TO: ANTIBIOTIC :)

medicine

Kenalan sama Antibiotik
Minum antibiotik itu butuh komitmen, kalo berani mulai harus komitmen sampai habis *wait, ini ngomongin antibiotik atau apa nih?*. Bosen nggak sama tulisan di obatnya yang bilang “HABISKAN” ? Kalo udah males kadang ditinggal juga tu antibiotik, nggak diminum lagi soalnya sudah ngerasa baikan, jadilah si antibiotik ngadem di kotak obat, entah sudah kadaluarsa atau belom. Tapi… di sisi lain, kalau sakit terus berobat ke dokter kalau nggak dikasih antibiotik rasanya ada yang kurang. Apa ini yang namanya hate-love relationship ya? Hehe…
Antibiotik bukan cuma obat biasa, why? Kalau obat lain, bekerja pada umumnya ke organ tubuh kita. Misalnya nih, obat maag, kerjanya menetralkan asam lambung kita yang berlebihan, obat kolesterol menurunkan kadar kolesterol tubuh kita. Kalau antibiotik… beda 🙂  It’s a killer. A killer? Yap, antibiotik bukan bekerja di tubuh kita, tapi bekerjanya di makhluk hidup lain yang masuk dan menyerang tubuh kita, call them, bakteri. Antibiotik ini bisa membunuh langsung atau menghambat pertumbuhan bakteri sehingga nggak merugikan tubuh kita.
Jadi jelas kan? Antibiotik sebaiknya hanya dipakai untuk penanganan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dari mana kita tahu penyakit yang kita alami karena bakteri atau bukan? Tentunya dengan periksa ke dokter. Selain diperiksa gejala-gejala penyakitnya, kadang butuh juga pemeriksaan lain seperti pemeriksaan laboratorium untuk memastikan bakteri apa yang menginfeksi kita.
Untuk berjaga-jaga nih, coba deh periksa lebih lanjut ke dokter kalau sakit yang kita alami *yang pasti bukan sakit patah hati* udah berlangsung 3 hari/ lebih dan kondisinya makin parah. Demam baru sehari? Istirahat aja, banyak minum air putih, makan yang cukup, kalau perlu minum vitamin dan obat pereda demam yang dijual bebas. Demam udah 3 hari/ lebih nggak turun-turun plus ada gejala-gejala lain? Nah, periksalah ke dokter, siapa tahu anda memang butuh bantuan antibiotik. Flu dan batuk baru sehari? Istirahat yang cukup, makan minum yang bener, minum vitamin. Kalau lebih dari 3 hari plus ada demam, ditambah dahak/ lender hidung *we call it ingus* sudah berubah warna dari bening jadi hijau, periksalah ke dokter. Inget, nggak semua penyakit butuh antibiotik 🙂 , jadi jangan paksa-paksa dokter untuk meresepkan antibiotik kalau memang nggak perlu dan jangan beli antibiotik tanpa resep dokter.
Apa bedanya antibiotik sama vitamin penambah daya tahan tubuh?
Beda, jelas beda. Vitamin penambah daya tahan tubuh (imunostimulan) bekerjanya membantu tubuh kita untuk meningkatkan kemampuan bertahan dari serangan infeksi. Tubuh kita sendiri memang punya “pasukan” untuk berjaga dari serangan infeksi. Tapi, proses ini tentunya butuh waktu dari mulai obat diminum sampai akhirnya memberi efek peningkatan daya tahan tubuh kita. Masalahnya, beberapa infeksi yang serius butuh ditangani dengan cepat. Kalau nggak, pastinya memberi efek yang merugikan untuk tubuh, mulai dari rasa sakit hingga kematian *serem, but it’s true*. Pertolongan ini cuma bisa diberikan oleh antibiotik karena kerjanya langsung ke bakteri yang menyerang tubuh kita. Karena itulah, di kondisi/ penyakit tertentu antibiotik ini mutlak dibutuhkan, misalnya meningitis, tipes, dll. If your body really need help from antibiotik, take it. Imunostimulan atau vitamin lain kalau diperlukan tentunya boleh dikonsumsi juga, tapi tetap sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing orang.

Beneran harus dihabisin nih? Kalau nggak gimana? Udah baikan kok penyakitnya…

Beneran deh, antibiotik harus dihabiskan biarpun gejala penyakit sudah hilang atau baikan. Kenapa? Bisa jadi gejala hilang tapi bakteri penyebab infeksi sebenarnya masih ada di tubuh kita, kalau antibiotik sudah dihentikan sebelum bakteri-bakteri ini hilang semua, akan ada sisa bakteri yang mulai bertahan hidup lagi dan mengubah dirinya menjadi resisten (kebal) terhadap antibiotik yang kita konsumsi. Bakteri yang kebal ini dapat memperbanyak diri lagi dan kembali menyerang tubuh kita. Akibatnya kita sakit lagi dan akan membutuhkan antibiotik yang mungkin lebih kuat sifatnya dari antibiotik sebelumnya yang kita konsumsi. Nggak cuma itu, bakteri tersebut juga dapat berpindah ke orang lain sehingga orang tersebut tertular infeksi yang juga lebih “canggih” dari infeksi kita yang pertama. Malas menghabiskan antibiotik nggak hanya akan merugikan kita, tapi juga bisa membahayakan orang lain. Siapa orang lainnya? Yang paling beresiko pastinya orang-orang terdekat kita.

Antibiotik boleh dan harus dihentikan kalau terjadi reaksi alergi atau efek samping yang parah. Alergi ini sifatnya khusus, bisa jadi satu orang alergi sementara orang lain nggak alergi terhadap antibiotik tertentu. Kalau efek samping, setiap obat termasuk antibiotik bisa memberikan efek samping. BISA ya, bukan berarti selalu. Jadi tidak semua orang akan merasakan efek sampingnya, kalau merasakan pun bisa jadi keparahannya beda-beda. Hentikan antibiotik kalau muncul efek-efek yang mengganggu seperti mual, muntah, atau gangguan lain yang parah dan langsung periksa ulang ke dokter untuk penanganannya lebih lanjut.

Next, we will talk about how to take antibiotic 🙂

Selamat Senja :)

Twilight is a moment when night introduce elegance of dark to the sky

Dulu waktu kecil.. *agak malu nih* kata mama.. Saya pernah nangis waktu ngeliat langit di waktu sore.. Nangis kenapa coba? Hehe.. Dulu saya takut ngeliat langit jadi warna-warni.. Dominan merah ya kalo sore.. Saya takut soalnya kirain mau kiamat *bocah..bocah*. Sekarang? Ya udah nggak takutlah pastinya.. Tapi tetap.. Waktu senja/petang/sore itu pasti ngebawa perasaan tersendiri.. Contohnya.. Kalo pulang kerja dan terpaksa kejebak di jalan sore2.. Perasaan tuh jadinya mellow2 gimanaa.. Gitu. Ada yang pernah ngerasain? Atau saya aja yang aneh sendiri? Haha..

Btw, senja itu seperti masa transisi, sama seperti mendung yang menghubungkan cerah ke hujan.
Dan sama seperti banyak masa transisi lainnya.. Kadang masa-masa itu kelihatan menakutkan.. Gak jelas.. Penuh perubahan2 … senja itu seperti saat kita beralih dari mahasiswa ke lingkungan kerja, dari lingkungan yang lama ke lingkungan yang baru, waktu kita berpindah dari cuma bermimpi dan berencana ke tindakan nyata.. Banyakkkk banget perubahan2 yang muncul, yang awalnya terlihat menakutkan tapi ternyata dibaliknya ada keindahan.. Yang tadinya serba nggak jelas menjadi pola tertentu yang membentuk sesuatu yang lebih indah, lebih baik.. *i hope*

And now.. I’m in my twilight moment.. Many things is new for me.. Many things is scary for me.. Scary because I don’t know.. Can I handle this? Can I handle that? Can I make this? Can I do that? I always wonder when will all of this become clear? but for sure .. This twilight will be my favourite time.. And Will give me a beautiful night.. 😀

5 years from now, what will you be?

Malam ini adalah malam yg bikin stres.. ayo ayo harus berani memutuskan apa yg kamu mau melllll …. Ups, bukan cuma apa yg kamu mau, tapi apa rencana besarmu..bismillah.. sambil nonton video ini mari berpikir, merasa, dan berdoa 🙂

Taut

Puzzle

Sebenernya agak malu nulis ini..hihihi..Why? Cause  I’m not an expert on this.  I’m still single, so this post is not a professional advice, just an amateur opinion.. :p

This is what I’m thinking about finding someone to have a relationship with (kalo pake bahasa inggris jadi g terlalu getek nulisnya)… well, we can call it, “the one”: finding the one is like arrange the puzzle, you and your life is like a half set of a large puzzle.. It would not be complete without the rest of it… *means him or her*

Puzzle itu intinya potongan2 kecil gambar yang punya bentuk unik dan kalau dipasangkan dengan benar akan membentuk satu gambar yang utuh. Menurutku.. two critical point in finding “the one”  are comfort and vision (minjem istilah yg sering dipake deus,,haha).

First,comfort,  kenyamanan.. Seperti saat kita menyusun puzzle..Cuma keping2 yang pas bentuknya aja yang bisa kita susun… klau g pas dan kita susun dengan paksa.. yang ada masing2 keping itu bisa rusak. Maybe it’s like we searching for “the one”, we will attrack to somebody who make us comfort. Iit’s a chemistry, we use our heart to feel it..

Second, is the overall picture, gambaran utuh set puzzle itu. Biarpun potongan2 puzzle itu pas satu sama lain, tapi kl gambarnya g sinkron, kan gak akan sempurna juga hsilnya..bayangin yang setengah set puzzle-nya gambar rumah yang setengahnya lagi gambar jurang .. :p To decide whether he/she is “the one” is maybe like that too.. We will trying to find someone who is not only make us comfort, but also who  have same vision, same thought  with us. Hem mungkin bukan sepenuhnya sama, tapi pemikiran, visi, rencana2nya melengkapi apa yang ada di otak kita 🙂

Masalahnya dalam nyusun puzzle,, kadang kita bingung ini puzzle sebenernya gambarnya apa sih?? makanya kita harus tau dulu dengan pasti puzzle yang bagian kita itu membentuk gambar apa..jadi nggak akan susah ketika kita mencari setengah bagian puzzle lagi utk membentuk satu gambar yang utuh. The point is, in my opinion.. first of all we have to figure out what is our vision, our purpose, what kind of person we really are, what kind of life we want to live … so we can decide what kind of person we want to live with.

Hem, is it look difficult? I think yes, but it’s possible.. *sekali lagi…it’s my amateur opinion*, well I believe in marshall’s words for this: “Being in a couple is hard. And committing , making sacrifices, it’s hard. But if it’s the right person, then it’s easy…” (marshall ericksen, @how I met your mother season 1, 12th episode)

Previous Older Entries